Transkrip Wawancara Ibu Sartika di TV One Kata Gué Téh
Pemirsa, ini kami sudah berada di lokasi tempat kejadian perkara, di mana ditemukannya seseorang mayat yang, eummm, ditemukan di dalam sebuah tong plastik berwarna biru. Dan dapat kami kabarkan, di kawasan Kelapa Nunggal, Kabupaten Bogor ini memang kawasan yang sepi, karena ini jalannya merupakan jalan kawasan atau menuju ke kawasan industri, dan jalan ini merupakan jalan yang menghubungkan dari Bogor nantinya hingga menuju ke Bekasi, dan saya tidak sendiri. Untuk lebih jelasnya, saya akan mencoba bertanya kepada salah satu saksi, Ibu Sartika. Ibu Sartika ini adalah euuu orang yang pertama kali menemukan, euuu, mayat dalam tong tersebut atau Dufi, yang, yang akrab dipanggil Dufi. Ibu, bisa diceritakan engga Bu, pertama kali Ibu melihat itu pada hari Minggu pagi ya, Bu?
Iya, jam eneum. Tah saya téh lihat ke beras ini téh ada gentong, saya téh mau diambil, duh ada gentong bagus, ambil ku saya, CABAK TÉH, ko... diraba begini téh, ko berat gitu, terus téh, penasaran dibuka aja lakbannya, BRET! BRET! wah NGOLOSOT itu tutupnya. Geus ngolosot téh, hah kakinya NGARUMPAY ka KANA saya. Oh! ini orang kata GUA TÉH, masih hidup lu! Siapa yang masukin ka gentong? kata gua.
Oke, Ibu pas menemukan pertama kali itu masih dalam kondisi hidup?
Belom, dikirain SAYA MAH... [suara klakson kendaraan] masih idup, da lemes badan, itunya, kakinya, kan biasanya suka kaku adu kalau meninggal mah, tapi itu mah lemes, kata gua tuh masih hidup kali? (((giiituuu))). AI TEUN TÉH GA TEUN NYUWARA. Wah! lu mah udah mati kali? diyutub(?) gua téh gitu. Udah! Astagpirulohaladim, Ya Allah, CEUK URANG TÉH Ya Allah, ini mah udah meninggal kali, udah mati, kata saya téh, (((heee))).
Baik, Ibu boleh ditunjukkan di mana lokasi titik Ibu tempat menemukannya? Sebelah mana?
Di sebelah sini.
Di sebelah sini?
Iya.
Ini... pemirsa dapat dilihat, ini adalah jalan yang cukup sepi, di mana penerangan pun ini memang minim sekali, kami pantau dari tadi perjalanan menuju ke sini. Dan di sebelah kiri, jika Anda dapat melihat, kameramen kami akan menunjukkannya, ini adalah lapangan atau hamparan yang dipenuhi oleh ilalang. Ibu, apakah memang Ibu, euhhh, sering sekali lewat ke sini? Karena Ibu, Ibu, euh ini ya, pekerjaannya... mulung juga ya, Bu ya?
Iya, nyari, nyari SAYA MAH ke sini eni, nyari Aqua™.
Nyari Aqua™?
Iya, nemu gentong da mau diambil ama {gua}, eee. Kata {saya} DEUK diambil itu, engga tau dalemnya apa, pokonya mau diambil kata {gua} begitu.
Baik, Ibu sebelumnya pernah melihat gentong itu atau pada hari itu saja melihatnya, Bu?
Itu aja hari Minggu, cuman itu doang... HARITA gitu.
Jadi sebelumnya Ibu belum melihat gentong itu pada pagi hari, p... euhhh, hari Minggu pagi pukul enam ya, Bu ya?
Euuuh, pagi aja jam enem, iya pagi jam enem.
Nah, begitu melihat gentong kemudian Ibu melihat, eeeu, ada yang berisikan mayat manusia, mohon maaf, di situ Ibu, apa yang Ibu lakukan pertama kali?
Ya dibuka aja pengen tau, pengen jelas nih apa dalemnya gitu kata gua.
Oke, Ibu kan sudah tahu kemudian itu adalah mayat. Ibu minta tolong ke siapa? Langsung lapor polisi atau seperti apa sih?
Engga, yang lapor polisi orang lain, dah saya tolong-tolong, emang engga kasihan apa ini orang? Kata GUA TÉH gitu. Tolong dong tolong! Cepetan! Gitu kata gua. Lah! dia yang laporan polisi mah, saya mah engga nyuruh, engga, engga apa gitu.
Kemudian langsung oleh warga sekitar yang lewat ya, Bu, ya berarti?
Iya, yang lewat, yang laporan. DA MEUREUNAN, DA URANG MAH di situ aja bilangnya, gitu saya mah.
Oke, baik. Ibu bisa diceritakan, memang Ibu setiap hari memang lewat sini?
Iya, KA sini, emang nyari, nyari Aqua™ saya mah tiap hari GÉ.
Ibu tadi kami sempat berbincang juga dengan warga sekitar ya, yang suka lewat sini, Bu. Katanya ini memang kawasannya sepi ya, Bu?
Iya, emang aga sepi, kalau malam mah, ai siang sih ada, ada yang lewat maaah, NGAN engga kaya malem emang aga sepi, lam- mat- lampunya lagi mati katanya, waktu HARITA malam Minggu téh, gitu katanya NÉNG.
Oke, baik dan Ibu pada saat, eu menemukan pertama kali kemudian meminta pertolongan warga dan polisi, itu... Ibu, Ibu sendiri apa posisinya?
Lah udah aja saya bilangnya begitu, dikirain saya téh bukan orang, saya mah mau ngambil gentong KATA GUA TÉH, terus téh orang dalamnya, tolong apa ini tolongin orang kasian.
Baik, Ibu kan tadi berkata bahwa sering lewat sini ya, Bu, ya? Eh, buat ngambil sampah juga gitu, Bu?
Iya, ngambil sampah, saya nyari emang.
Ya, dan di sini tuh... Ibu bisa diceritakan memang kawasan ini adalah kawasan yang sepi atau seperti apa? Karena mengingat di sini merupakan jalan menuju ke kawasan industri dan... menuju ke pemukiman sendiri cukup jauh ya Bu, hingga satu kilo jaraknya, betul?
Lah iya jauh ke situ muter saya balik lagi ke situ. Udah pulang, di sini muter dulu ke situ, kan ada sampah di situ. Saya téh jadi ngelihat gentong balik lagi ke sini gitu hari Minggu téh.
Ibu bisa diceritakan kawasan ini kondisinya seperti apa?
Lah sepi sekarang mah, udah... bangkrut ITUNA pabriknya, aga sepi emang.
Sudah lama dalam kondisi sepi dan minim penerangan seperti ini?
Udah hampir ada setahun mah.
Ibu sempat tahu tidak bahwa di sini, eh, apakah memang sebelumnya pernah ada kejadian seperti ini atau tidak?
Engga.
Baru pertama kali?
Baru pertama, Minggu doang.
Baik, Ibu Sartika, terima kasih waktunya.
Iya, sama-sama Néng.
Iya.
Saya nolongin orang kasian.
Iya, baik. Ya, Puvi dan juga pemirsa, itu tadi adalah wawancara sedikit dengan, euuu, salah satu saksi atau saksi mata pertama kali yang menemukan mayat Dufi yang berada di dalam gentong atau... drum berwarna biru, di mana pada kesi- eh, hingga saat ini memang motif pelaku pembunuhan dan juga lainnya masih diselidiki oleh pihak Kepolisian Kabupaten Bogor.
Catatan:
Tulisan ini menggunakan laras bahasa kreatif dan ragam bahasa nonformal. Tulisan versi formal dan menggunakan tanda kutip di setiap paragraf juga tanda baca sesuai dengan kaidah TBBBI dan EYD V ada di akun Medium saya.
Glosarium:
ituna = itunya
da meureunan = ya mungkin
da urang mah = ya saya sih
ai teun téh ga teun nyuara = ???
harita = waktu itu; waktu yang lalu; dulu; dahulu
ngarumpay; ngarumbay = menjalar